12

Tahun Baru 2012 ini – Tidak merayakan tapi tetap ada biayanya

cdi

Mengeluarkan biaya lebih ketika tahun baru itu adalah hal yang wajar, tahun baru kan hari libur internasional dan sudah menjadi kebiasan warga dunia untuk merayakannya. Ada yang merayakan tahun baru dengan liburan ke tempat pariwisata, ada yang ke tempat saudara, atau hanya merayakan tahun baru di rumah dengan menu makanan yang berbeda dari biasanya. Jadi bagi yang merayakan tahun baru harus mengeluarkan biaya, besar kecilnya biaya tergantung bagaimana merayakannya , kalo cuma beli kacang atom atau jagung bakar mungkin perlu mengeluarkan biaya tinggi.

Namun apa yang tertulis di atas tidak berlaku bagi saya. Saya yang tidak merayakan tahun baru, tapi tetap mengeluarkan biaya lebih. Kenapa? ceritanya? Ceritanya puanjang,

jadi begini, kisah ini diawali ketika saya pulang dari rumah mertua teman saya, lokasinya di daerah kawedanan, kec. Karangrejo, kabupaten Magetan, meskipun magetan tapi sepertinya masih jauh dari rumahnya Hatifah. Teman saya itu namanya Hariyono. Hariyono belum lama menikah, jadi ia dan istriny masih tinggal dengan mertuanya. Rumah mertua hariono ini lumayan jauh, dan hariyono tidak memberikan koordinat yang tepat, ia hanya memberikan alamat dusun, RT RW, Desa, Kecamatan, dan kabupaten. Tapi tidak masalah karena saya pergi ke sana dibantu dengan navigasi google map. Ketika saya ingin pulang tiba tiba gerimis datang, hariyono menawari jas hujan, awalnya saya menolak dengan alasan filing saya mengatakan nanti tidak hujan deras. Tapi hariyono tidak menerima alasan saya, saya pun dipaksa menerima pinjaman jas hujan dengan mencabut dulu kunci motor saya, hadeh.

Jas hujan pun saya pakai, kemudian saya menyelah sepeda motor saya untuk menghidupkan mesinnya (doble start gak hidup), tidak seperti biasanya, motor ini tidak bisa langsung menyala, butuh beberapa kali selahan untuk bisa membuat motor ini menyala. Setelah mesin motor hidup, saya pun meluncur pulang dengan ditemani gerimis yang kemudian menjadi Hujan. Saya menikmati hujan ini, tidak ada keresahan sedikitpun di hati saya, apalagi sudah ada pinjaman jas hujan dan meskipun filing saya salah.

Saya menyusuri jalan aspal yang masih halus karena baru diperbaiki sambil mengingat jalur pulang, ingatan saya masih kuat dan segar, tidak ada kebingungan dalam pikiran saya tetang jalan pulang. Apalagi saya membawa smartphone canggih buatan produsen elektronik terkemuka asal korea yang telah dilengkapi dengan aplikasi navigasi buatan raksasa internet dunia asal Mountain View. Bensin motor sudah saya isi full, lampu sein dan lampu penerangan juga berfungsi normal, meskipun cahayanya agak naik ke atas. Dengan Tool yang begitu lengkap dan meyakinkan, membuat saya tenang dan nyaman dalam perjalanan pulang meskipun hujang begitu deras mengguyur motor dan jas hujan pinjaman dari hariyono.

Tapi saya lupa satu hal, sebuah tool yang lebih dari sekedar tool, yang sangat lebih mujarab dari berbagai tool buatan manusia. Saya lupa berdoa, duh Gusti.. saya malah kepedean dengan Tool buatan manusia. Padahal tools buatan manusia itu tidak bisa berjalan tanpa seizinmu. Padahal tanpa tools itu pun saya bisa pulang ke rumah asalkan Engkau mengizinkan.

Belum ada seperempat perjalanan pulang, motor saya mogok. Mogok pas di perempatan jalan yang halus, yang tidak begitu ramai, di bawah guyuran hujan, dan tidak jauh dari pintu masuk kantor LANUD. Saya coba untuk menyelahnya beberapa kali di tengah jalan, namun motor tidak juga menyala. Kemudian saya lanjutnya menyelah dipinggir jalan, tapi tidak juga menyala. Kemudian motor mogok itu saya tuntun ke teras pertokoan yang sudah tutup, kebetulan di pinggir jalan dekat teeras itu juga ada kendaraan mogok, cuma bedanya kendaraan itu beroda empat, dan sepertinya yang bikin mogok bukan mesinnya, tapi rodanya, karena saya lihat beberapa laki-laki sedang mengutak atik bagian roda. di teras tempat saya memarkir motor ada beberapa wanita dan pemuda, saya senyum kepada pemuda itu sambil mengatakan “mogok e mas” tapi dia not responding dan cuma ndomblong aja melihat tingkah saya. Setelah motor saya parkir, saya langsung mengutak atik bagian busi, karena tidak ada peralatan pembongkar busi, jadi yang saya lakukan cuma mencet mencet tutup businya aja, sambil berdoa, semoga nyala lagi.

Mengutak atik busi dengan jari sambil berdoa ternyata belum membuahkan hasil, saya pun tidak ingin berlama-lama di teras itu, karena hari semakin gelap saya pun menuntun motor mogok itu keluar dari teras, menuju jalan halus, dan lalu menutun menuju arah pulang sambil menengok kanan kiri siapa tahu ada bengkel yang masih buka. Sekitar 200 an meter lebih saya menuntun motor di bawah guyuran hujan, saya tetap menikmati suasana itu, tidak mengeluh ataupun resah. Tapi sayangnya tidak nampak adanya bengkel motor yang buka.

Lalu beberapa saat kemudian mulailah bala bantuan datang. Di awali ketika saya melewati melewati seorang bapak yang membonceng anak dan istri di motornya yang baru mau jalan di depan warung yang mau tutup, kemudian setelah motor bapak sekeluarga itu berjalan, bapak itu menghampiri dan menanyai saya, “kenapa motornya mas”, saya jawab “mogok pak, mungkin businya, tapi saya tak ada cadangan dan alatnya”. Bapak itu bertanya lagi, “apa businya sama dengan motor saya ini”. “kalo sama saya bawa cadangan” tambahnya. motor bapak itu keluaran produsen jepang berlogo sayap satu. Saya pun menjawab “mungkin iya”, dan saya kasih kata penegasan bahwa businya sama, meskipun saya belum pernah membandingkan.

Kemudian bapak itu meminta saya menuntun motor saya ke warung yang mau tutup tadi, pemilik warung sederhana itu menyambut dengan baik dan bersahabat dengan membantu menyenteri bagian busi yang mau saya ganti. Busi sudah saya ganti dengan busi dari bapak tadi, tapi sayangnya motor belum bisa hidup juga meskipun busi dari bapak itu cocok dengan motor saya. kemudian pemilik warung turun tangan, ia mencoba mencabut tutup busi dengan dari kabelnya, lalu mengetest apakah mesin motor ini masih menghasilkan percikan api atau tidak, ternyata tidak ada percikan api. Saya tetap tenang, tidak mangkel dan resah, meskipun motor ini belum menyala juga, cuma saya tak enak saja sama bapak itu, semoga saja dia tidak kecewa karena gagal membantu saya menyalakan motor.

Bapak penolong tadi menyarankan untuk ke bengkel saja, saya jawab semua bengkel suda tutup. Lalu pemilik warung menunjukkan sebuah bengkel yang tidak begitu jauh dari warungnya, pemilik warung berkata “coba mas lihat ke arah sana, itu ada benkel tapi masih buka atau tidak saya tidak kelihatan, coba sampean lihat, buka atau tidak”, saya jawab “sepertinya masih buka pak”, meskipun saya sendiri juga tidak bisa melihat jelas apakah bengkel itu masih buka atau tidak. Saya pun mencoba mendatangi benkel itu setelah berpamitan pada dua laki-laki baik yang telah membantu saya.

Alhamdulillah bengkelnya buka. Saya pun meminta tolong kepada pemilik bengkel itu memperbaiki motor saya. Pemilik bengkel itu mengotak atik bagian busi, dan ternyata kabel yang tadiknya tidak bisa muncul percikan api ini muncul lagi apinya. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, motor mogok tadi bisa menyala mesinnya. Alhamdulillah. Kemudian saya menanyakan ongkos perbaikan itu, bapaknya bilang gak usah mas, tapi saya gak enak hati, akhirnya saya paksa ia menerima pembayaran dengan mengatakan, “niki kagem jajan putranipun”, hihihi.

Setelah motor bisa menyala lagi, saya melanjutkan perjalanan pulang, saat itu hujan masih mengguyur bumi. Saya yakin motor ini tidak akan mogok lagi. Saya pulang dengan tetap menikmati suasana hujan itu. Tidak ada keresahan di hati saya, semua masalah dapat teratasi dengan baik, dengan izin Alloh. Dalam perjalanan saya juga tidak lupa berdoa, berzikir, dan membaca surat Alfatihah, berharap moga aja tidak mogok lagi, berharap semoga tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk lagi.

Namun Alloh berkehendak lain, motor saya mogok lagi di wilayah geneng. Saya tetap tenang, saya coba menyelah pendal motor, tapi motor tidak bisa menyala. Akhirnya saya menuntut motor itu lewat jalan pinggir (bukan jalan aspal), sambil mengengok ke arah kanan, siapa tahu ada bengkel yang buka. ALhamdulillah saya menjumpai bengkel yang buka di kanan jalan, tepatnya di depan *sensor*. SAya pun menyebrang jalan untuk menuju ke bengkel itu.

Setelah sampai di benkel, motor saya tidak bisa langsung ditangani, karena masih harus mengantri. Tukang bengkel masih memperbaiki motor yang juga mogok. Sekitar jam 8 nan motor saya baru dipegang. Di benkel inilah saya awal biaya besar tahun baru muncul. Bengkel ini dari awal hanya berfokus pada bagian kelistrikan, ketika awal dibongkar memang tidak tampak ada percikan api. TUkang bengkel ini membongkar berbagai kabel, setelah beberapa kali bongkar kabel, percikan api sudah muncul, namun mesin belum juga menyala. Berdasaran informasi dari bengkel langganan saya, jika percikan api sudah muncul dan mesin belum menyala, sebaiknya segera mengecek bagian karburasi (ini saya ketahui setelah saya sampe di bengkel langganan saya), namun tukang benkel ini sama sekali tidak menyentuh bagian karburasi. Ia malah membongkar bagian CDI tapi tidak bisa mengehidupan motor , lalu membongkar bagian stop kontak, padahal setahu saya stop kontak tidak ada masalah, motor pun belum juga bisa hidup.

Tukang bengkel ini pun akhirnya mengklaim bahwa CDI motor ini yang bermasalah, ia mengatakan sumber listrik dari mesin besar, tapi CDI nya bermasalah, jadi gak bisa menghidupkan motor. SAya yang belum tahu lebih soal motor percaya saja dengan ucapannya. Sayangnya Tukang bengkel ini tidak menjual CDI. saya mencoba meng SMS galang, untuk membantu cari info ada yang jual CDI apa gak malam-malam gini. Tapi gak ada respon, kemudian saya SMS sebhi, Alhamdulillah sebi membalas, dan mencoba membantu mencarikan CDI. Tapi karena saat itu malam dan tahun baru, toko pada tutup. AKhirnya saya meminta sebhi untuk mengantar saya pulang, soal CDI mau saya carikan saja besok di toko kalau sudah buka. Malam itu motor menginap di benkel.

Keesokan harinya dengan diantar oleh teman sekampung yaitu ateng, saya berangkat untuk mengurusi motor mogok yang masih di bengkel. Sebelum langsung ke bengkel saya mampir dulu ke bengkel langganan saya untuk bertanya apakah dia menyediakan CDI yang cocok untuk motor saya atau tidak, ternyata dia menyediakan. Saya pun membeli CDI di bengkel langganan saya ini seharga 35 ribu rupiah. Setelah membeli CDI, saya dan ateng melanjutkan menuju bengkel yang mengurus motor saya. Setelah sampai di bengkel itu ternyata CDI nya tidak cocok pada bagian colokan kabelnya. Akhirnya saya dan ateng pergi ke kota ngawi untuk mencari CDI yang cocok. Di kotangawi saya mendapatkan CDI yang cocok kabelnya itu di toko rajawali.

CDI yang cocok kabelnya sudah saya dapatkan, sekarang saatnya si tukang bengkel itu memasang CDI pada motor mogok saya. Setelah dipasang ternyata motor tetap tidak bisa langsung menyala. TUkang bangkel pun mulai membongkar mesin bagian depan. Tapi masih belum juga membongkar bagian karburasi. Sekitar 30 menit motor mogok saya masih diotak atik, akrhinya bisa hidup juga mesinnya. Alhamdulillah dalam hati saya. Namun oleh si tukang bengkel, motor itu tidak ditest di jalan raya. Mesin hidup ya sudah, dia bilang bisa. Saya pun juga tidak menyarankan dia untuk mengetest, karena pada malam harinya dia sempat cerita kalo baru buka, jadi pikir saya ini tukang bengkel masih amatir, saya tidak mau meminta dia untuk menangani motor saya lebih jauh lagi, takutnya tambah hancur lagi.

Motor pun saya bawah pulang setelah membayar biayanya 15 ribu rupiah. dalam hati saya berencana untuk segera membawa motor ini ke bengkel langganan saya. Dalam perjalan pulang, motor ini terasa tidak enak sekali, jauh sekali jika dibandingkan dengan sebelum masuk bengkel itu. Motor hanya mampu berjalan di bawah 50 KM/J. Jika digas lebih dari itu mesin motor itu serasa mau mati. Lampu yang sebelumnya menyala malah jadi tidak menyala.

Setelah sampai dibengkel langganan saya, saya pun menyampaikan segala keluh saya tentang motor saya itu. Setelah dicek lebih mendalam ternyata CDI saya beli di rajawali motor yang kabelnya cocok itu tidak cocok dengan motor saya, sehingga jika mesin digas lebih dalam mesin motor terasa mau mati, suaranya juga brebet menyedihkan. Akhirnya saya pun membeli CDI lain yang ditawarkan oleh bengkel langganan saya, Alhamdulillah cocok. Namun harganya lebih mahal sedikit, yaitu 170 ribu rupiah, CDI yang kubeli dari rajawali motor akhirnya tidak terpakai.

Selain mengganti CDI, saya juga harus mengganti tutup klep yang dirusakkan oleh bengkel amatir tadi, sepertinya si bengkel amatir membuka dengan kasar dan tanpa alat yang benar. saya juga harus mengganti fleser, Fleser yang membuat lampu sein berkedip pun juga rusak. lalu mengganti gear dan lain-lain totalnya di bengkel langganan ini menghabiskan 205.500 sudah termasuk potongan CDI pertama yang harganya 35 ribu. Sedangkan di bengkel amatir tadi saya menghabiskan 145.000 sudah termasuk CDI rajawali motor.

Jadi jumlah biaya tahun baruku sebesar 205.500 + 145.000, belum termasuk bensin dan jajan dua porsi ayam penyet di RM kondang rasa. Tahun baruku tidak untuk bersenang-senang, tampi malah repot ngurusi motor mogok.

Filed in: cerita

Recent Posts

Bookmark and Promote!

12 Comments

  • At 2012.01.08 14:09, Zebhi said:

    Walah Vic, kok parah men sampai habis segitu.

    Hadeh… Biaya tahun barumu sangat besar. :)

    [Reply]

    • At 2012.01.09 01:01, Mawar Hitam said:

      hoho :D
      Sangar rek ga tahun baruan tapi biaya gedhe :D
      aku gur 6000 tahun baru wingi buat maen di warnet PM a :D

      [Reply]

      • At 2012.01.11 22:58, ties said:

        *sial*

        [Reply]

        • At 2012.01.14 11:54, bend said:

          ganti CDI ColT aja mas bro :D

          [Reply]

          • At 2012.01.16 03:43, I2-Harmony said:

            Dulu motor lamaku pernah kayak gitu, ternyata penyebabnya cuma cap busi yang kemasukan air sehingga korslet. Untung CDI nya ga sampai mati kayak punyamu. :)

            [Reply]

            • At 2012.01.18 07:13, Hatifah said:

              Ya Allah maaaaass., ceritamu benar-benar sesuatu.. Something jan..
              Setelah membaca dengan penuh perasaan, di akhir saya ingin berkata,
              “Sing Sabar nggih mas..”
              ^_^

              [Reply]

              • At 2012.01.18 08:22, vicky said:

                opo wi 6000…. kurang akeh…

                [Reply]

                • At 2012.01.18 08:22, vicky said:

                  Iyesh

                  [Reply]

                  • At 2012.01.18 08:22, vicky said:

                    Ya begitulah seb… makasih udah ngaterin fulang

                    [Reply]

                    • At 2012.01.18 08:22, vicky said:

                      motorku korban kelinci fercobaan mash..

                      [Reply]

                      • At 2012.01.18 08:23, vicky said:

                        terima kasih sudah membaca dengan penuh perasaan… jarang jarang ada yang baca ful.. paling aawal sama akhirnya aja… hihihi
                        terima kasih…

                        [Reply]

                        • At 2012.01.27 23:34, hany said:

                          sabar j y bang, kapan2 ben lebih ati-ati :)

                          [Reply]

                          (Required)
                          (Required, will not be published)

                          © 4976 vicky. All rights reserved. XHTML / CSS Valid.
                          Proudly designed by Theme Junkie.